Teori ini pertama kali di kemukakan oleh Dr August Weismann, seorang biologis dari Jerman pada tahun 1882. Beliau percaya bahwa tubuh dan sel-selnya rusak karena banyak terpakai dan digunakan secara berlebihan. Organ tubuh seperti liver (hati), lambung, ginjal, kulit,dsb dirusak oleh toksin (racun) yang kita dapatkan dari makanan atau lingkungan. Konsumsi yang berlebihan dari lemak, gula, kopi,alkohol, rokok, sinar ultraviolet matahari ditambah stres fisik dan psikis akan merusak organ dan tubuh kita. Bahkan, tanpa pernah merokok, minum alkohol, menghindari sinar mataharipun, tubuh kita akan menua, karena kita gunakan tiap hari. Pada waktu kita muda, kemampuan tubuh untuk mempertahankan sistem reparasinya cukup baik, tetapi dengan bertambahnya usia kemampuan tubuh untuk memperbaiki sel-sel tubuh yang rusak menjadi berkurang.
Vladimir Dilman, Ph.D. memfokuskan wear and tear theory pada sistim neuro-endokrin, suatu jaringan biokimiawi yang kompleks yang mengatur hormon tubuh dan elemen penting lainnya. Neuro-endokrin berarti proses penuaan berhubungan dengan kadar hormon. Pada waktu muda, hormon tubuh kita bekerja bersama mengatur fungsi-fungsi organ tubuh, termasuk respon terhadap panas, dingin, dan aktivitas seksual. Organ yang berbeda, mengeluarkan hormon yang berbeda, akan tetapi semua berada dibawah komando kelenjar hypothalamus. Kelenjar sebesar kacang ini terdapat di otak dan bertanggungjawab untuk produksi dan interaksi antara hormon tubuh. Karena fungsinya yang mengkoordinasikan semua hormon, kelenjar ini disebut juga sebagai “termostat tubuh “.
Hormon adalah vital untuk memperbaiki dan mengatur fungsi-fungsi tubuh. Bila kita menua, produksi hormon tubuh menjadi berkurang, sehingga kemampuan tubuh untuk memperbaiki sendiri (self-repaired) dan mengatur sendiri (self-regulation) menjadi rendah.
Produksi hormon adalah saling interaktif, dalam arti bilamana salah satu hormon produksinya berkurang, produksi hormon tubuh yang lainpun akan berubah , bisa berkurang atau bahkan malah bertambah.
Teori ini mengatakan bahwa kita sudah memiliki program genetik dalam DNA masing-masing, yang akan mengatur fungsi fisik dan mental masing-masing individu. Keturunan genetik ini yang menentukan berapa usia kita yang mulai menua, usia berapa yang kita akan meninggal. Setiap manusia seakan memiliki “jam waktu” (seperti bom waktu) yang berdetik terus sampai masanya habis, dan setelah itu kita meninggal.
Walaupun demikian, walaupun kita masing-masing sudah memiliki kode genetika tertentu, kita masih menemukan adanya variasi yang dapat mempengaruhi perkembangan dan juga kehidupan kita, termasuk kapan kita akan menjadi tua.
Riset anti-penuaan Dr Denham Harman pada tahun 1954 mengemukakan teori radikal bebas. Radikal bebas adalah suatu elektron dalam tubuh yang tidak memiliki gandengan, sehingga akan berusaha mencari elektron pasangannya supaya dapat berikatan dan stabil. Sebelum memiliki gandengan, radikal bebas akan terus menerus menghantam sel-sel tubuh, guna mendapatkan pasangannya, termasuk menyerang sel-sel tubuh yang sudah stabil/normal. Akibatnya sel-sel akan menjadi cepat rusak dan menua, juga mempercepat timbulnya kanker. Oksigen sendiri adalah merupakan salah satu sumber radikal bebas. Pada waktu kita bernapas dan juga olahtubuh (exercise), pembentukan radikal bebas akan meningkat. Radikal bebas akan di netralisir oleh anti-oksidans, yang selain dibentuk tubuh, juga bisa berasal dari luar misalnya vitamin A, C, E, dsb
Teori paling baru dan banyak menjanjikan kemungkinan adalah teori telomerase. Dasar teori ini adalah penemuan yang didapatkan oleh grup ilmuwan dari Geron Corporation di Menlo Park, California. Telomer adalah rangkaian asam nukleat yang terdapat di ujung kromosom. Telomer berfungsi sebagai penjaga keutuhan kromosom. Setiap kali sel tubuh kita membelah, telomer akan memendek. Bilamana ujung telomer sudah terlalu pendek, kemampuan sel untuk membelah (dalam arti mereparasi) akan berkurang, melambat, dan sel akan tidak dapat membelah lagi (mati). Inilah mekanisme sel-sel “jam tubuh”, yang terbatas usianya.
Teori ini dibuat berdasarkan fakta bahwa dengan bertambah tua, protein manusia yaitu DNA dan molekul lainnya akan saling melekat, saling memilin (crosslink). Akibatnya protein yang sudah rusak tidak dapat dicerna oleh enzim protease, sehingga mengurangi elastisitas protein dan molekul. Akibatnya pada kulit bisa terjadi kerutan , pada ginjal fungsi penyaring menjadi berkurang dan pada mata terjadi katarak (kekeruhan lensa mata).